Cerpen


Rumah Eyang


Dipo adalah mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jogja. Dipo sudah tinggal di Jakarta sejak lahir tapi karena ia diterima UGM, ia harus tinggal di Jogja. Dipo awalnya susah mencari kost yang murah, dekat dengan kampusnya dan fasilitasnya yang lengkap tapi paman dan bibinya menawari Dipo untuk tinggal di rumah almarhum eyangnya. Dipo pun sangat senang dan menerima tawaran itu. Setelah mengurus berkas-berkas kelulusan sma nya, Dipo bersiap-siap untuk pergi ke Jogja. Sampai di Jogja, Dipo dijemput pamannya di stasiun dan langsung menuju rumah eyang. Setelah sampai, Dipo langsung  membersihkan rumah eyang yang berdebu karena sudah 10 tahun tidak ditinggali. Dipo dibantu Pak Joko selama membersihkan rumah eyangnya. Pak Joko adalah penjaga rumah dan tukang kebun di rumah eyang sejak dulu.

Malam pun tiba, Dipo sangat lelah dan ingin beristirahat di kamarnya. Dipo memilih tidur di kamar almarhum eyangnya. Sambil mencoba untuk tidur, Dipo menyalakan radionya yang ia bawa dari Jakarta. Tiba-tiba Dipo mendengar suara gamelan dari luar rumah.

“Siapa yang memainkan gamelan malam-malam begini? Apa ada acara diluar?”  Dipo keheranan.

Dipo penasaran dan melihat keluar. Pada saat Dipo membuka pintu depan rumah suara gamelan berhenti. “Kok berhenti suaranya?” Dipo kebingungan.

Dipo pun kembali ke kamarnya, suara gamelan terdengar kembali. “Kok ada suaranya lagi?” Dipo takut. Dipo membuka pintu depan rumah lagi dan tidak ada apa-apa. Dipo pun langsung lari ke kamarnya dan menaikkan volume radionya sambil mencoba untuk tidur.

Hari perkuliahan pun tiba, Dipo sangat senang menjadi mahasiswa baru di UGM. Tak sengaja Dipo bertemu teman SMA nya yaitu Vito. “Vito...” teriak Dipo. “Oy..Dipo..” saut Vito. “Jurusan apa lo?” tanya Dipo. “Gue jurusan hukum nih. Lo jurusan apa?” tanya vito. “Manajemen.” balas dipo. “Lo udah  dapet temen kost belum?” tanya Vito. “Gue gak kost tapi tinggal di rumah almarhum eyang gue. Kalo lo belum dapet temen kost, tinggal di rumah eyang gue aja, cuma kita patungan aja buat biaya listrik,internet, air sama kebutuhan-kebutuhan rumah.” Jawab Vito. “Wah kebetulan nih! , ok gue tinggal di rumah eyang lo.” Balas Vito sambil bersemangat.

Akhirnya mereka tinggal berdua, baru sekitar 3 hari Vito pindah mereka diganggu hantu. Sekitar jam 12 malam saat mereka mencoba untuk tidur, tiba-tiba lemari jati dikamar mereka bergoyang-goyang sendiri. Mereka kaget dan ketakutan.

“Lemari lo kenapa tuh Po?” tanya Vito ketakutan. “Gue gak tau...” jawab Dipo gemetar ketakutan.
Tak lama kasur mereka terasa seperti ditendang dari bawah. “Astagfirullah!” teriak mereka.

Mereka pun langsung keluar dari kamar dan memutuskan untuk tidur di ruang tengah. Lemari bergoyang adalah kejadian yang sangat sering terjadi di kamar Dipo. Sebulan kemudian, sepupu Dipo, Mba Asri tinggal di rumah eyang karena sudah tidak betah tinggal di kostan yang lama. Mba Asri memilih tidur di kamar belakang. Dipo dan Vito tidak menceritakan hal-hal yang aneh dirumah itu kepada mba asri karena akan membuat Mba Asri takut.

Baru beberapa hari Mba Asri tinggal, Mba Asri diganggu. Pada jam 8 malam ketika Dipo dan Vito sedang asyik bermain game Play Station di kamar mereka, Mba Asri masuk ke kamar mereka dengan wajah yang takut.

“Ada apa toh mba?” tanya Dipo kebingungan. “Aku lihat ada perempuan cantik berbaju merah duduk dikasurku.” Jawab Mba Asri. “Yowes mba, kita tidur bertiga saja di ruang tengah.” Kata Dipo sambil menenangkan Mba Asri. Mba Asri tidur di sofa sementara Dipo dan Vito tidur beralaskan tikar dibawah.

Saat waktu subuh tiba, Dipo terbangun karena suara ember dikamar mandi yang sedang diisi air. Dipo mengira Vito atau mba asri yang ada dikamar mandi. Dipo pun tersadar bahwa Vito dan Mba Asri masih tidur. Dipo pun membuka pintu kamar mandi, ternyata tidak ada orang dan embernya pun kering. Dipo tidak memberitahu kejadian itu kepada siapapun.

Lingkungan pertemanan Dipo dan Vito dikampus meluas. Ada salah satu teman mereka dari jurusan Teknik Informatika UGM yaitu Kevin yang ingin mencari kost yang dekat dengan kampus mereka. Dipo pun menawarkan untuk tinggal bersama. Akhirnya Kevin setuju dan tinggal dirumah eyang.

Selama Kevin tinggal dirumah eyang Dipo, Kevin belum mendapat gangguan hantu tetapi setelah seminggu tinggal disana, ibunya Kevin ke Jogja karena urusan pekerjaan. Kevin menawarkan ibunya untuk menginap dirumah eyang karena gratis. Ibu Kevin tidur di sebelah kamar Dipo. Pada malam pertama ibu Kevin tidur dikamarnya, tiba-tiba ia melihat kuntilanak mengintip di ventilasi kamarnya. Ibu Kevin berlari keluar sambil berteriak memanggil Kevin.

“Keviiiinn!” teriak ibu Kevin sambil berlari. “Ada apa ma?” Kevin bertanya keheranan. “Tadi mama lihat ada kuntilanak di ventilasi kamar, mama takut banget...”. akhirnya malam itu ibu Kevin, Kevin, Dipo, Vito, dan Mba Asri tidur di ruang tengah.

Seminggu setelah ibu Kevin menginap, sahabat Dipo yaitu Radit ingin mengunjungi Dipo yang sudah lama tidak bertemu. Radit mengunjungi Dipo karena Radit sedang liburan musim panas. Radit sekarang sedang berkuliah di salah satu universitas di Sydney, Australia. Dipo sangat senang Radit mengunjunginya tapi Dipo tidak menceritakan gangguan-gangguan hantu dirumah eyang. Radit tidur diruang tengah bersama Dipo,Vito dan Kevin. Sedangkan Mba Asri sedang ada dirumah temannya di Magelang. Mereka terbiasa tidur diatas jam 12 malam, ketika mereka mencoba untuk tidur tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang keras, suara itu terdengar dari pintu samping.

“Tok...tok...tok...” suara pintu diketuk. “Siapa sih yang dateng malem-malem?” tanya Radit dalam keadaan mengantuk. “Kok ngetok nya dari pintu samping sih?” tanya Dipo dengan muka yang kesal. Dipo pun membuka pintu samping tapi tidak ada orang. Mereka pun mencoba untuk tidur kembali, kemudian terdengar lagi suara ketukan pintu yang lebih keras dari pintu samping.

“Ya Allah ganggu banget sih!” keluh Vito. Dipo membuka pintu samping dan tidak ada orang. “Kita tungguin aja kali ya?” usul Kevin. Mereka berempat pun berjaga didepan pintu samping. Sebenarnya suasananya sangat seram, karena ketika membuka pintu samping, langsung dihadapkan pemandangan pohon-pohon besar seperti Pohon Mangga, Pohon Rambutan, dan Pohon Durian. Karena mereka kesal, mereka tidak sedikit pun takut. Setelah setengah jam, mereka sudah sangat mengantuk dan kembali tidur.

Libur semester akhir pun tiba, sayangnya Radit harus kembali ke Australia. Dipo, vito dan kevin merencanakan acara makan-makan di malam tahun baru dirumah eyang. Mereka mengundang 20 orang temannya. Teman-teman mereka sudah berkumpul pada siang hari. Teman-teman mereka yang perempuan bertugas memasak dan yang laki-laki menyiapkan tungku pembakaran untuk bakar-bakar. Dipo mencari anglo digudang, setelah sudah menemukannya Dipo keluar dari gudang dan bertemu Rina didapur karena memang dapur dan gudang letaknya bersebelahan. Mereka mengobrol dan obrolan mereka terhenti ketika Rina ingin ke kamar mandi belakang. Suara keran air terdengar dari kamar mandi belakang. Tiba-tiba Dipo melihat Rina keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah. Dipo pun merinding dan langsung membuka pintu kamar mandi belakang dan ternyata tidak ada orang dan embernya pun kering. Sebenarnya saat itu Rina memakai baju biru bukan baju merah yang dilihat Dipo didapur.

“Rin, lo dari mana aja?” tanya Dipo. “Gue abis sholat dikamar lo, kenapa?” tanya Rina. “Gak apa-apa kok.” Jawab Dipo. Dipo tidak memberitahu kejadian itu karena Dipo tidak ingin membuat Rina takut.

Sekitar jam 4 sore, Dipo dan Kevin menyiapkan anglo. “Gue beli arang sama minyak tanah dulu ya.” Ucap Kevin sambil menyalakan motornya. Kevin belum kembali tetapi tiba-tiba api menyala sangat besar di anglo tersebut sampai-sampai hampir membakar plafon teras rumah eyang.

“Astagfirullah!” teriak Dipo. Dipo langsung mengambil air dan memadamkannya. Dipo pun kesal dan bertanya kepada teman-temannya siapa yang menyalakan api sebesar itu, tapi tidak ada yang menyalakan api itu karena tidak ada arang dan minyak tanah. Tiba-tiba Kevin datang dengan motornya, “Nih arang dan minyak tanahnya!” teriak Kevin. Semuanya pun terdiam karena syok.

Sehabis Maghrib mereka pergi ke alun-alun Jogja, mereka baru pulang ke rumah eyang jam 11 malam. Anehnya api di anglo menyala lagi tapi tidak terlalu besar. “Kok nyala lagi sih?” tanya Dipo dengan wajah yang kesal. Akhirnya dipo memadamkannya setelah itu Dipo makan malam dengan teman-temannya.

Karena libur semester akhir masih panjang, Vito dan Kevin pulang ke Jakarta. Vito dan Kevin diantar oleh Dipo sampai stasiun. Dipo memang suka begadang, saat asyik-asyiknya Dipo bermain game dikomputer, Dipo mendengar suara Vito. “Po, main catur yuk.” suara Vito. “Iya ntar, nanggung nih dikit lagi menang.” saut Dipo. Lalu Dipo tersadar bahwa ia sendirian dirumah eyang. Dipo menoleh kebelakang dan melihat Vito sedang tidur dikasur tetapi membelakangi Dipo dan Vito terlihat masih memakai jaket yang dipakai saat Vito pulang ke Jakarta. Lalu Dipo menoleh kebelakang lagi tapi sesosok Vito menghilang.

Dipo mempunyai firasat yang tidak enak dan Dipo langsung menghubungi Vito dan Kevin. Tetapi handphone mereka tidak aktif. Esok pagi barulah Vito dan Kevin menghubungi Dipo karena mereka tertidur selama perjalanan. Mereka dalam keadaan baik-baik saja.

Satu bulan kemudian liburan semester berakhir, Vito dan Kevin kembali ke Jogja. Saat itu bertepatan dengan Piala Thomas Cup. Setiap malam Dipo, Vito, dan Kevin selalu menonton dari jam 7 malam sampai jam 9 malam. Pada suatu malam, mereka sedang asyik menonton Thomas Cup, setiap jeda Dipo melihat ke arah teras kost Mas Galih. Dipo penasaran karena didepan teras kost Mas Galih seperti ada seorang perempuan yang duduk. Dipo berpikir itu adalah pacarnya Mas Galih, tetapi Dipo heran kenapa perempuan itu menunggu dari jam 7 malam sampai jam 10 malam sendirian.

”Vito, Kevin, liat deh itu pacarnya Mas Galih bukan sih?” tanya Dipo sambil menunjuk ke arah teras kost Mas Galih. “Gak tau tuh, Mas Galih kan belum pulang.” saut Vito sambil memakan kripik singkong. “Samperin aja yuk kasian.” usul Kevin. Akhirnya mereka menuju kesana.

Mereka hampir sampai diteras kost Mas Galih, tiba-tiba perempuan itu menolehkan kepalanya dan tersenyum. “Astagfirullah...” teriak mereka. Mereka langsung berlari ke dalam rumah eyang karena itu bukan pacar Mas Galih melainkan kuntilanak.

“Brrmm...” suara motor Mas Galih datang. Dipo, Vito dan Kevin langsung menghampiri Mas Galih. “Mas Galih, tadi ada kuntilanak di teras kost Mas Galih.” Ucap Dipo. “Biarin aja lah, aku juga tau kok.” balas Mas Galih.

Karena gangguan-gangguan hantu yang sering Dipo, Vito dan Kevin berkonsultasi dengan ketua Rohis UGM, yaitu Rifqi. Rifqi memberi saran agar mereka memperbanyak sholat wajib dan sunnah, puasa, dan mengaji setiap malam. Gangguan-gangguan hantu pun tidak ada lagi selama semester akhir hingga mereka wisuda. Setelas wisuda mereka kembali ke Jakarta untuk bekerja dan rumah eyang Dipo tidak ia tinggali lagi namun sesekali ia mengunjungi rumah itu.




Komentar